ekonik3

MATERI KAJIAN DISKUSI

In Marhaenisme on April 30, 2008 at 7:43 am

STUDI PERBANDINGAN TEORI DAN

SISTEM KESEJARAHAN SOSIALISME

oleh:

DONNY
TRI-ISTIQOMAH, PRESIDIUM GMNI

PERKEMBANGAN SOSIALISME

ANALISA TEORI DAN TOKOH

1. Francois Noel
Babeuf (1760-1797)

Babeuf adalah orang yang pertama menyuarakan cita-cita
sosialisme. Babeuf adalah anggota kaum Yakobin (fraksi radikal dalam Revolusi
Perancis 1789). Inti pemikiran Babeuf tentang sosialisme adalah keinginan
mendirikan “republik orang-orang sama” (tanpa kelas). Oleh karena itu Babeuf menyerukan
agar kaum miskin berperang melawan kaum kaya. Babeuf ditangkap dan dipenggal
kepalanya akibat merencanakan konspirasi radikal sosialis tahun 1797.

2. Claude Henry Saint
Simon (1760-……)

Simon adalah seorang teknokrat Perancis, yang memiliki pemikiran
dan cita-cita terwujudnya masyarakat yang adil dan sejahtera sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Simon tidak sepakat jika
perwujudan kesejahteraan masyarakat ditempuh dengan cara perjuangan kelas.
Simon percaya bahwa kemajuan IPTEK akan menyelamatkan kehidupan manusia jika
memang diorganisir secara baik.

3. Robert Owen
(1771-1858)

Owen adalah seorang pengusaha dari Inggris. Inti dari
pemikiran Simon bahwa cara untuk menghilangkan penindasan, kemiskinan dan
kehinaan adalah dengan cara mengefektifkan pendidikan bagi kaum buruh. Dengan
pendidikan, maka kaum buruh akan berdaya dalam mempertahankan hak-haknya.
Selama hidupnya Owen banyak sekali mendirikan organisasi sosial dan pendidikan.
Dalam sepak terjangnya Owen konsisten dalam perjuangan menciptakan
undang-undang yang melindungi kaum buruh, seperti perlindungan pekerja,
pembatasan kerja anak-anak, dan diadakannya inspeksi berkala oleh negara
terhadap pengusaha. Pada tahun 1825 ia mendirikan sebuah pemukiman sosialis di
Amerika Serikat, namun gagal, dan akhirnya kembali ke Inggris.

4. Charles Fourier
(1772-1837)

Fourier adalah seorang Perancis yang tidak sepakat dengan
revolusi. Pendekatannya teknokratis seperti Simon. Menurut Fourier, kemelaratan
dan penghisapan kaum buruh serta krisis-krisis ekonomi merupakan akibat
organisasi kemasyarakatan yang salah. Untuk itu organisasi itu harus kembali
direformasi. Fourier yakin bahwa semua kebutuhan manusia dapat disesuaikan satu
sama lain tanpa adanya konflik asalkan diorganisasikan secara tepat. Organisasi
yang diidealkan Fourier adalah sebuah organisasi yang terdiri dari
komunitas-komunitas harmonis yang disebutnya phalansterium. Yaitu sebuah
komunitas agraris yang kecil dan mandiri, yang hidup dari pertanian dan
pertukangan, dan memproduksi segala kebutuhan mereka sendiri. Setiap
phalansterium terdiri dari 1620 anggota dan menguasai 2000 ha tanah. Semua
harus hidup dalam satu rumah besar (seperti rumah panjang Kalimantan).

5. Etienne Cabet
(1788-1856)

Cabet adalah seorang pengacara di Perancis yang terlibat
aktif dalam revolusi Perancis 1789. Cabet mengimpikan sebuah negara komunis
ideal yang dipimpin oleh seorang diktator yang baik hati. Dalam negara itu
masyarakat hidup tentram dan bahagia tanpa ada hak milik pribadi dan uang.
Pertanian dan industri dimiliki bersama. Semua produk pekerjaan diserahkan
kepada negara untuk dibagi secara merata kepada para warga. Orang makan makanan
yang sama, pakaian sama, tempat kediaman sama, seluruhnya sama.

SOSIALISME DI MASA
KARL MARX

1. Louis Auguste
Blanqui (1805-1881)

Blanqui seorang revolusioner yang aktif memimpin
pemberontakan-pemberontakan kaum buruh di Perancis. Blanqui tidak memiliki
sebuah teori sosialis seperti tokoh-tokoh lainnya. Blanqui lebih banyak
dipandang melalui upayanya yang menyadarkan gerakan sosialis, bahwa revolusi
hanya dapat berhasil apabila ditunjang oleh sebuah organisasi revolusioner. Ide
pemikiran Blanqui ini kelak akan ditiru oleh V.I. Lenin melalui partai
komunisnya sebagai avantgarde (partai pelopor).

2. Weitling (1808-1871)

Weitling seorang tukang jahit miskin yang merantau ke
berbagai negara eropa. Gagasan-gagasan sosialisme Weitling lebih berupa
“khotbah” tentang keadilan dan keharusan bagi kaum buruh untuk memberontak
melawan kaum tiran. Ia memakai kutipan-kutipan Injil untuk melawan kaum kaya.
Yesus digambarkannya sebagai seorang komunis yang menyerukan penghancuran
sistem penindasan dan penghisapan dengan memakai kekerasan. Menurut Weitling,
kehidupan manusia akan melalui tiga tahap, tahap pertama zaman emas dimana
belum ada hak milik pribadi, tahap kedua tahap hak milik pribadi, dan tahap
ketiga tahap komunisme dengan cara menghapus hak milik pribadi. Weitling sempat
berteman dengan Marx dan Engel di London Inggris, namun ia tidak sepakat dengan
sosialisme Marx, dan akhirnya pindah dan meninggal di Amerika Serikat.

3. Pierre Joseph
Proudhon (1809-1865)

Proudhon adalah anak seorang petani anggur di Perancis.
Proudhon adalah orang yang tidak sepakat dengan pemikiran Marx. Baginya
komunisme tidak ubahnya dengan kapitalisme yang juga mengancam kebebasan. Sebab
komunisme akan menghilangkan martabat individu dan nilai-nilai kehidupan
keluarga karena telah memaksa rakyat hidup seperti di tangsi. Proudhon
menginginkan dihapusnya hak milik besar yang dianggapnya sebagai hasil
penghisapan. Hanya produsen kecillah yang masih boleh mempunyai hak milik.
Hutang dan bunga atas utang juga harus dihapus, untuk itu perlu didirikan
bank-bank rakyat yang akan memberikan kredit tanpa bunga (di Indonesia seperti
Bank Muammalat). Para produsen kecil saling menukarkan hasil produksi dalam
koperasi sesuai dengan nilai barang yang diproduknya. Jika hal itu sudah
tercipta, maka negara dan undang-undang sudah tidak diperlukan lagi. Pemikiran
Proudhon ini kemudian akan disempurnakan oleh Bakunin, seorang tokoh anarkisme.

4. Louis Blanc (1811-1882)

Blanc adalah seorang Perancis yang pernah menjadi menteri di
tahun 1848. Pemikiran Blanc berbanding terbalik dengan Proudhon. Jika Proudhon
tidak memerlukan negara karena adanya kemandirian rakyat melalui bank rakyat
dan koperasi, justru Blanc mengharapkan peran negara agar mengorganisasikan
produksi dan menghilangkan persaingan. Untuk memecahkan masalah buruh, Blanc
mengusulkan agar pemerintah membuka bengkel-bengkel sosial, yang bertugas
memecahkan dan membantu masalah-masalah yang dihadapi para buruh.

5. Moses Hess
(1812-1875)

Hess anak seorang pedagang Yahudi Jerman. Hess adalah kawan
Marx di koran Rheinesche Zeitung. Pemikiran sosialisme Hess cenderung religius
akibat didikan agama Yahudi yang diperolehnya selama masa kanak-kanak. Hess
berpendapat bahwa umat manusia sedang masuk dalam tahap baru perkembangannya
dimana manusia dan Allah (roh dan alam) menyatu kembali. Apabila agama-agama
kembali ke asal-usul bersama mereka, umat manusia akan mengalami pembebasan.
Komunisme menurut Hess harus dicapai melalui revolusi sosial. Melalui revolusi
ini akan diciptakan perdamaian abadi umat manusia, masyarakat yang sama dan
bebas, yang berdasarkan cinta kasih persaudaraan.

6. Mikhail Bakunin
(1814-1876)

Bakunin adalah seorang bangsawan Rusia yang sebagaian besar
hidupnya tinggal di eropa barat. Bakunin adalah musuh bebuyutan Marx selama
masa Internasionale I. Pemikiran Bakunin yang mewakili kelompok anarkisme
adalah terciptanya masyarakat anarkhia, yaitu suatu masyarakat yang hidup tanpa
adanya kekuasaan memaksa. Oleh karena itu Bakunin menolak segala macam bentuk
negara. Bagi Bakunin, asalkan perekonomian ditata secara adil, maka
lembaga-lembaga yang bersifat memaksa tidak diperlukan lagi.

SOSIALISME PEMIKIRAN KARL MARX

1. Teori Alienasi
(Keterasingan)

Teori keterasingan diawali oleh pandangan Marx tentang
kerja. Kerja pada dasarnya adalah bentuk manifestasi dari jati diri (hakekat)
manusia. Karena itu, maka manusia dalam melakukan pekerjaannya selalu
disesuaikan dengan keinginan, hobby dan angan-angannya. Namun sejak adanya
sistem kapitalisme, kerja sudah bukan lagi merupakan bentuk jati diri manusia,
melainkan hanya sebuah bentuk aktivitas paksaan demi upah.

Akibatnya, manusia harus terasing dari pekerjaannya,
terasing dari hasil kerjanya, dan terasing dari jati dirinya, dan akhirnya pula manusia juga harus terasing
dari manusia lainnya. Menurut Marx, keterasingan ini sebagai akibat pembagian
hak milik pribadi dalam sistem kapitalisme. Akibat hubungan hak milik pribadi
ini juga, majikan akhirnya juga ikut terasingkan karena tidak mampu
mengembangkan jati dirinya sebagai manusia. Majikan hanya secara pasif
menikmati hasil kerja orang lain. Hanya saja, majikan mengalami sudut madu
keterasingan dan buruh mengalami sudut pahitnya.

Awal munculnya hak milik ini menurut Marx berawal dari
sistem pembagian kerja. Pada jaman masyarakat purba pembagian kerja belum
dikenal. Dalam kegiatan mereka masih melakukannya secara bersama-sama. Namun
lambat laun mereka mulai sadar bahwa bekerja tanpa ada pembagian kerja, sama
sekali tidak efisien. Pemikiran Marx ini kemudian dikembangkan dalam teori
perkembangan masyarakat (verelendung). Dalam teori ini Marx membaginya dalam
tiga tahap perkembangan. Tahap pertama adalah masyarakat purba yang belum
mengenal pembagian kerja. Tahap kedua adalah tahap pembagian kerja (dan sampai
saat ini masih terus berlangsung). Tahap ketiga adalah tahap kebebasan, yaitu
apabila hak milik pribadi sudah dihapus. Pemikiran ini ditempuh melalu
pendekatan materialisme sejarah (historis materialism).

2. Teori
Perjuangan Kelas (Klassentrij)

Sistem kapitalisme secara tidak langsung telah melahirkan
tiga kelas dalam masyarakat, yaitu kelas proletar, kelas majikan dan tuan
tanah. Hanya dalam tulisan-tulisan Marx berikutnya, yang paling banyak diulas
adalah dua kelas yaitu proletar dan majikan.

Dua kelas itu menurut Marx secara obyektif mengandung
kontradiksi (berlawanan). Di satu sisi kelas proletar berkepentingan untuk
mendapatkan upah setinggi-tingginya, sisi lainnya kelas majikan berkepentingan
memperoleh laba sebesar-besarnya. Dalam teori ini, kelas buruh selalu berada
dalam posisi yang lemah, karena hidupnya tergantung dari upah majikan. Akibat
posisi yang lemah itu, maka buruh semakin ditindas dengan upah yang ditekan
serendah-rendahnya oleh majikan.

Ketika kontradiksi itu sampai pada klimaksnya, maka revolusi
proletar akan mengambil alih seluruh alat produksi untuk kemudian dikuasai
secara bersama-sama. Prediksi itu bagi Marx adalah suatu keniscayaan sejarah
yang nantinya akan terjadi.

3. Teori Nilai
Lebih (Meewaarde)

Kotradiksi yang terjadi antara buruh dan majikan telah
memberikan akibat-akibat yang merugikan kehidupan kaum buruh karena mereka
memang berada dalam posisi yang dilemahkan. Akibat tindakan majikan yang
menekan upah buruh serendah-rendahnya berakibat tidak sebandingnya nilai kerja
yang dilakukan dengan upah yang diterima kaum buruh. Sehingga secara tidak
langsung, majikan telah merampok hak yang sebenarnya menjadi hak kaum buruh.
Inilah yang dimaksud dengan teori nilai lebih.

4. Pandangan
Marx tentang Negara

Bagi Marx, negara bukanlah lembaga di atas masyarakat yang
mengatur masyarakat tanpa pamrih, melainkan merupakan alat dalam tangan
kelas-kelas atas untuk mengamankan kekuasaan mereka. Jadi negara tidak
bertindak demi kepentingan umum, melainkan demi kepentingan kelas-kelas atas.
Negara bukanlah wasit-wasit netral, melainkan selalu berpihak, berpihak kepada
kelas atas.

SOSIALISME MARX DI MATA REVISIONIS

1. Vladimir Ilyitz
Ulyanov/V.I. Lenin (1870-1924)

Lenin adalah salah seorang tokoh pendiri Uni Sovyet, sebuah
negara komunis yang pertama kali resmi berdiri di dunia melalui revolusi
Oktober (Bolsevik) 1917 melalui penggulingan rejim kekaisaran Tsar. Lenin juga
merupakan pendiri Komintern (Komunis Internasional).

Lenin tidak sepakat dengan Marx bahwa untuk menuju
sosialisme harus menunggu matangnya kapitalisme yang akan memunculkan revolusi
proletar secara alamiah. Bagi Lenin, revolusi tidak harus ditunggu, tapi harus
diusahakan dan direkayasa. Untuk itulah maka Lenin tidak segan menggunakan
kekuatan bersenjata guna mewujudkan revolusi.

Dengan demikian, Lenin mengugurkan pemikiran Marx, bahwa
revolusi tergantung dari proses ekonomi. Bagi Lenin, revolusi hanya tergantung
dari proses politik yang akan dilakukan.

Lenin juga tidak percaya bahwa buruh sanggup memimpin
revolusi, mengingat tingkat pendidikan dan pengetahuan buruh yang rendah. Untuk
itu Lenin perlu mendirikan partai komunis yang akan diisi oleh elite-elite yang
berpengetahuan tinggi yang akan memimpin buruh dalam kediktatoran proletariat.

2. Karl Kautsky
(1854-1938)

Kautsky adalah salah seorang tokoh sayap kiri Partai Sosial
Demokrat Jerman (SPD) yang memiliki pikiran marxisme ortodok. Kautsky tetap
berkeyakinan bahwa revolusi sosialis adalah sebuah keniscayaan sejarah,
sehingga revolusi tidak perlu direkayasa. Untuk itu, Kautsky mengecam tindakan
Lenin dalam Bolsevismenya. Walaupun Trotsky percaya pada kehancuran
kapitalisme, Trotsky tetap tidak sepakat dengan jalan pemikiran Bernstein yang
menempuh jalan sosialisme melalui reformasi. Trotsky tetap menginginkan
perwujudan sosialisme melalui jalan perjuangan kelas.

3. Eduard
Bernstein (1850-1932)

Bernstein adalah tokoh SPD yang menganjurkan partainya untuk
memperjuangkan sosialisme melalui reformasi dan demokrasi. Pandangan Bernstein
ini didasarkan pada pengamatannya yang melihat kapitalisme ternyata terus
melakukan perbaikan-perbaikan dalam sistemnya, sehingga sulit untuk
diperkirakan ambruk. Oleh karenanya Bernstein tidak menginginkan lagi
perjuangan melalui revolusi, sebab kapitalisme bisa dijinakkan melalui
kompromi-kompromi yang akan terus memperbaiki nasib kaum buruh secara bertahap.

4. Rosa Luxemburg
(1897-1918)

Rosa adalah tokoh SPD yang mengecam Trotsky, Bernstein dan
Lenin. Terhadap Trotsky, Rosa mengkritik bahwa walaupun keruntuhan kapitalisme
adalah suatu keniscayaan, bukan berarti kita harus menunggu dan bersikap pasif.
Justru sikap itu hanya akan melemahkan semangat dan kesadaran kaum buruh. Untuk
itu perjuangan kelas harus terus dijalankan. Perjuangan kelas yang berlangsung
terus menerus itu nantinya akan mematangkan kesadaran kaum buruh. Sehingga jika
suatu saat kapitalisme mulai melemah, maka kaum buruh telah siap melakukan
revolusi.

Rosa juga mengecam Lenin yang menganggap buruh tidak layak
dan tidak mampu menjadi pemimpin revolusi. Rosa menganggap Lenin berpikiran
picik, sebab Lenin mengabaikan perjuangan kelas yang dilakukan secara terus
menerus secara tidak langsung telah mengubah kaum buruh menjadi manusia yang
berpendidikan dan berpengetahuan melalui pengalamannya selama dalam perjuangan
kelas.

Rosa juga mengutuk Bernstein yang demoralisasi yang mengubah
perjuangan revolusi menjadi reformasi. Memang Rosa tidak menolak perjuangan
partai buruh melalui parlemen, namun tujuan di parlemen bukanlah untuk
berkompromi, tapi adalah untuk merebut kekuasaan negara.

5. Leon
Bornstein/Trotsky (1879-1940)

Trotsky adalah tokoh marxis Uni Sovyet pimpinan kaum
Menshevik (minoritas). Pemikiran sosialis khas Trotsky adalah “teori revolusi
permanen”. Teori itu memunculkan satu revolusi yang harus terus-menerus dilakukan
oleh kaum proletariat, walaupun kekuasaan negara telah terambil-alih. Revolusi
permanen Trotsky tidak mengijinkan kaum borjuis demokratik ikut memimpin
jalannya revolusi. Kekuasaan negara harus tetap dipegang kaum proletariat, dan
jangan sampai dipegang kaum borjuis demokratik. Sebab Trotsky tidak percaya
kaum borjuis demokratik mampu menjalankan peran negara mewujudkan sosialisme
(landreform, nasionalisasi, serta pembebasan negara dari dominasi asing).
Ketidak-percayaan itu didasarkan pada bukti sejarah yang menyatakan bahwa kaum
borjuis demokratik selalu cenderung memilih kompromi dengan kapitalis.

6. Antonio
Gramschi (1891-1937)

Gramsci (1891-1937) adalah seorang tokoh pendiri Partai
Komunis Italia 1921. Pemikiran Gramsci dalam The Prisson Notebook-nya,
mensyaratkan bahwa betapa pentingnya partai komunis beraliansi dengan kekuatan
lain dalam proses mencapai revolusi. Kekuatan lain itu terutama adalah kekuatan
yang tidak mencerminkan kelas, seperti gerakan lingkungan hidup, gerakan
perempuan, cendekiawan, mahasiswa dan lain-lain. Dengan aliansi kekuatan itu,
maka akan memudahkan kaum komunis untuk mencapai kekuasaan. Disamping itu
Gramschi juga menyatakan bahwa perlunya kesadaran sosialis merembes ke hati
nurani seluruh rakyat, sebab tanpa itu perebutan kekuasaan dalam rangka
diktator proletariat tidak dapat menghasilkan komunisme sejati. Gramschi juga
menuntut perlunya partai komunis yang berakar luas di tengah masyarakat sebagai
agen perubahan sosial, dan bukannya partai yang bersifat elitis seperti dalam
pandangan Lenin.

7. Mao Tse Tung
(1893-1976)

Mao adalah pemimpin partai komunis China yang berhasil
mendirikan negara komunis di China setelah berperang hampir 38 tahun
(1918-1940) melawan partai nasionalis Kuomintang pimpinan Chiang Kai Sek..
Pemikiran Mao hampir sama mirip dengan Lenin, bahwa revolusi harus dilakukan
melalui perjuangan politik dan kekerasan bersenjata. Mao juga mensyaratkan
bahwa buruh harus dipimpin oleh orang-orang pilihan yang tergabung dalam elite
partai dan militer. Hanya saja perbedaan Mao dengan Lenin terletak dalam
strategi revolusinya. Jika Lenin memusatkan revolusi pada penguasaan kota, Mao
memusatkan revolusi dari desa ke desa. Teori Mao ini kemudian dikenal dengan nama “Desa kepung Kota”.

8. Austromarxisme

Austromarxisme adalah kumpulan tokoh-tokoh marxisme yang
hidup di Austria dan memberikan kekhasan tersendiri dari marxisme ala Austria.
Tokoh-tokohnya antara lain Otto Bauer, Rudolf Hilferding, Karl Renner, dan Marx
Adler dan Friedrich Adler. Khusus Bauer dan Hilferding, mungkin sudah tidak
asing lagi bagi kita yang sering membaca DBR karena pemikiran kedua tokoh
tersebut sering disitir oleh Sukarno dalam artikel-artikelnya.

Kaum austomarxisme memanggap marxisime sebagai sebuah sistem
yang terbuka. Mereka juga menolak anggapan bahwa marxisme mengimplikasikan
materialisme dan ateisme. Sebaliknya, mereka berpendapat bahwa agama mempunyai
fungsi positif dalam hidup masyarakat. Bagi mereka, nilai-nilai marxisme adalah
universal. Marxisme bukan milik eksklusif proletarian melainkan realisasi
cita-cita tertinggi manusia. Secara filosofis kaum austromarxis mendasarkan
dirinya pada Immanuel Kant, bukan pada Hegel.

SOSIALISME PEMIKIRAN
SUKARNO

(MARHAENISME)

1. Teori Pauverishing (pemiskinan)

Teori Pauverishing bertolak dari kehidupan sosial masyarakat
Indonesia yang miskin dan tertindas. Dimana banyak petani Indonesia yang
memiliki tanah, cangkul serta alat produksi lainnya, dan mampu berproduksi
secara mandiri, namun tetap terlilit kemelaratan. Dari sini kemudian dicari
penyebab kemelaratan tersebut dengan menggunakan pisau analisis historis
materialisme. Dalam analisisnya Sukarno menyatakan bahwa kapitalisme dan feodalisme-lah yang menyebabkan kemelaratan itu. Para petani
Indonesia miskin karena dihisap oleh sistem kapitalisme. Tanah-tanah dikuasai
oleh para tuan-tanah (landlord), petani kecil dan buruh tani tidak mampu
bersaing dengan para tuan tanah sehingga mereka semakin miskin dan tertindas.
Petani Indonesia miskin juga karena budaya-budaya feodalisme. Bangsa Indonesia minderan, pasrah, dan nrimo,
yang itu semua adalah implikasi budaya feodalisme yang harus segera dirombak.

2. Mankind is One (teori budi nurani)

Budi nurani adalah sebuah pandangan filsafat Sukarno bahwa
terciptanya susunan masyarakat yang adil, sejahtera, makmur yang zonder
exploitation de l’homme par l’homme adalah tuntutan budi nurani manusia. Budi
nurani adalah hakekat hidup manusia. Dan hakekat manusia adalah ajaran-ajaran
yang diperintahkan Tuhan Yang Maha Esa. Jika dilihat dari jenis aliran
filsafat, pemikiran Sukarno ini bersifat transenden yang berarti menganut
filsafat idealisme Hegel.

3. Teori Persatuan (gotong royong)

Gotong
royong adalah cara perjuangan kaum marhaenis mewujudkan sosialisme Indonesia.
Teori ini memang bertolak belakang dengan teori Marx. Jika Marx perjuangan
kelas, Sukarno gotong royong. Alasan Marx memilih perjuangan kelas karena Marx
tidak pernah percaya jika kaum borjuis akan mau berkompromi dengan kelas proletar.
Lain dengan Sukarno, ia percaya, ia percaya karena pemikirannya memang
berangkat dari teori budi nurani, bukan alienasi. Sukarno percaya bahwa manusia
pada hakekatnya menginginkan kesempurnaan dan tidak ingin menindas dan
tertindas sebagaimana yang diajarkan oleh agama. Lalu kenapa agama tidak mampu
diefektifkan ? kenapa manusia lupa pada hakekat kemanusiaannya ? kenapa manusia
masih menindas manusia lainnya ?

Jawaban
Sukarno sama dengan Marx, bukan ajaran agamanya, tapi sistem pergaulan, budaya
dan struktur masyarakatlah yang tidak memberikan ruang untuk itu. Oleh karena
itu diperlukan satu revolusi, revolusi pemikiran, revolusi pandangan hidup,
revolusi kebiasaan, revolusi sosial-ekonomi-politik, revolusi yang mencakup
semua hal, semua aspek kehidupan, satu kesatuan revolusi yang kesemuanya
bertujuan untuk mengembalikan manusia Indonesia pada hakekatnya. Jika manusia
Indonesia kembali kepada hakekatnya, maka tidak perlu perjuangan kelas, sebab
rakyat Indonesia sudah bersatu, bergotong-royong, tolong-menolong dan
bahu-membahu mencapai kesejahteraan dan kemakmuran hidup bersama. Utopiskah ?
Tidak, sama sekali tidak utopis, kecuali masyarakat Indonesia sudah tidak
percaya lagi akan Tuhan dan ajarannya.

4. Teori Ekonomi
dan Peran Negara

Sistem perekonomian marhaenisme adalah sistem perekonomian
yang disusun atas sendi-sendi kekeluargaan (gotong royong), berdikari (tidak
tergantung dengan bangsa lain), adil, dan untuk kemakmuran bersama.

Selama pemerintahan Sukarno, beberapa hal yang mencerminkan
sistem perekonomian marhaenisme antara lain :

Landreform,
bertujuan pemerataan tanah kepada seluruh petani Indonesia. Dengan landreform,
tidak akan ada lagi petani yang tidak memiliki tanah dan tidak akan ada lagi
tuan-tuan tanah yang memiliki tanah beratus-ratus hektar. Landreform Indonesia
berbeda dengan landreform komunis, jika komunis bersifat menghilangkan hak
miliki, landreform Indonesia hanya membatasi hak milik demi pemerataan;

Sistem
koperasi di segala aspek usaha, bertujuan untuk merubah persaingan menjadi
kekeluargaan. Negara berperan aktif mewujudkan koperasi dengan mengeluarkan
kebijakan-kebijakan yang mendukung;

Monopoli
(penguasaan) negara di aspek-aspek ekonomi yang menyangkut rakyat banyak (air,
hutan, listrik, semen, tambang, dll) agar hasilnya dapat dirasakan rakyat
banyak pula.

5. Sosio-Nasionalisme
dan Sosio-Demokrasi

Sosio
nasionalisme dan sosio demokrasi merupakan bentuk ungkapan lain dari cita-cita
marhaenisme. Sosio-nasionalisme adalah satu asas kehidupan rakyat Indonesia
yang berdasarkan pada nasionalisme Indonesia. Satu nasionalisme kesadaran
sejarah. Satu nasionalisme yang cinta manusia dan kemanusiaan. Satu
nasionalisme yang bersifat melindungi dan memberikan keselamatan seluruh
rakyat. Sosio-nasionalisme berarti pula nasionalisme politik dan ekonomi.
Nasionalisme yang bersistem politik dan ekonomi ideal, yang bertujuan
mewujudkan keadilan sosial, kesejahteraan dan kemakmuran bersama.

Sosio-demokrasi
adalah satu asas kehidupan yang akan dipakai dalam mewujudkan
sosio-nasionalisme. Demokrasi adalah cara paling ideal menuju cita-cita
marhaenisme. Namun demokrasi yang dimaksud haruslah demokrasi berdasarkan
budaya Indonesia, bukan demokrasi ala Perancis, Amerika maupun Inggris yang
saling jegal dan hanya digunakan untuk kepentingan satu kelompok. Demokrasi
Indonesia adalah satu demokrasi yang bersifat membawa rakyat ke dalam
kepentingan bersama. Sosio demokrasi berarti pula demokrasi politik dan
demokrasi ekonomi.

5. Asas Perjuangan

Non Kooperatif

Non kooperatif adalah asas perjuangan dalam mewujudkan
cita-cita marhaenisme. Non kooperatif berarti tidak ada kata kompromi. Asas ini
dipakai oleh Sukarno untuk melawan kapitalisme Belanda. Non kooperatif adalah
satu-satunya cara yang paling ideal bagi rakyat Indonesia dalam mencapai
kemerdekaannya. Non kooperatif karena Belanda tidak akan pernah mau memberikan
kemerdekaan kepada rakyat Indonesia, sebab hal itu jelas bertolak belakang dan
hanya akan merugikan kepentingan Belanda di Indonesia.

Machtvorming

Machtvorming adalah asas perjuangan yang bertujuan menyusun
kekuatan di seluruh lapisan rakyat. Penyusunan kekuatan melalui aksi penyadaran
kepada seluruh rakyat terhadap penindasan dengan tujuan agar rakyat mau
bergerak memperjuangkan kemerdekaan. Machtvorming dibagi tiga tahap, jangka
pendek, sedang dan panjang. Jangka pendek, dapat dilakukan dengan cara
efektifitas propaganda politik (aksi pamflet, tulisan, berita dll). Jangka
sedang, pembentukan partai-partai sebagai wadah gerakan. Jangka panjang,
efektifitas pendidikan politik seluruh rakyat.

Massa Aksi

Massa aksi adalah gerakan-gerakan yang dilakukan oleh rakyat
dalam usahanya mencapai kemerdekaan.

6. Tantangan Marhaenisme

1. Infiltrasi Budaya Kapitalis terhadap Moralitas Bangsa


Tantangan terberat marhaenisme adalah budaya bangsa yang telah tercemar
budaya-budaya kapitalis (hedonis, konsumeris, pragmatis, individualis dan
westernis). Pola kehidupan kapitalis tersebut merupakan penghalang pokok
terwujudnya sosialisme Indonesia. Dan kita ketahui, kapitalisme adalah sistem
yang mengutamakan sifat keserakahan, ketamakan dan sifat egois manusia yang
mengingkari hakekat kemanusiaannya. Padahal masyarakat marhaenisme menginginkan
terciptanya satu susunan masyarakat sosialisme Indonesia yang kontra-kapitalis,
yaitu gotong royong, tolong menolong, tenggang rasa dan bentuk-bentuk ideal
manusia lainnya.

2. Disfungsionalisasi Peran Agama


Tantangan lainnya adalah peran agama yang telah terdistorsi dan
disfungsi. Agama yang diharapkan akan membangun moralitas bangsa dan nation and
caracter building, ternyata masih tercemari oleh budaya-budaya feodalisme dan
belum lepas dari kepentingan politik. Nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan
kebajikan yang menjadi nafas dari agama itu sendiri, nyaris hilang tergantikan
oleh perasaan-perasaan kemunafikan, keserakahan dan egoisme manusia.
Simbolisasi pertarungan elite yang kadangkala membawa-bawa agama, adalah salah
satu contoh konkrit yang cukup ironis bagaimana agama telah menjadi alat
justifikasi politik dalam perebutan kekuasaan elite. Feodalisme para ulama dan
kyai juga harus menjadi refelksi dan proyeksi tersendiri bagi kader GMNI dalam
mengkritisi peran agama agar kembali efektif, karena (sekali lagi) agama adalah
satu-satunya alat perjuangan yang determinan dalam upaya nation and caracter
building masyarakat Indonesia yang religius.

7. Asas Perjuangan

1. Machtvorming


Machtvorming adalah upaya penyusunan kekuatan bangsa melalui aksi
penyadaran, pemberdayaan dan pendidikan politik kepada seluruh rakyat. Untuk
itu diperlukan peran dari kader-kader pelopor serta partai pelopor yang akan
menjadi top leaders yang bertugas melakukan machtvorming tersebut. Kader-kader
pelopor adalah seluruh kader-kader marhaenis, dan partai pelopor adalah
organisasi ataupun kelompok kekuatan lainnya yang berbasiskan ideologi
marhaenisme.


Penggemblengan kader pelopor adalah dengan cara leave in di tengah
kehidupan masyarakat, dari kota sampai desa. Dengan pola demikian, kader
pelopor akan memiliki daya survive tinggi sekaligus penguasaan kantong-kantong
massa untuk menyiapkan massa aksi.

2. Kooperatif dan Non-kooperatif

kooperatif,
mempengaruhi kebijakan melalui agitasi dan propaganda terhadap kekuasaan
sebagai pembuat kebijakan (political will) dari tingkat pusat sampai daerah
agar mau mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mencerminkan nilai dan visi
marhaenisme. Syarat dari cara perjuangan ini adalah dengan menguatkan nilai
bargain position GMNI terhadap kekuasaan. Salah satu caranya, dimunculkannya
konsep-konsep dan ide-ide pemikiran cerdas dan solutif GMNI yang mampu diterima
dan diterjemahkan oleh opini publik, tanpa harus disimbolisasi oleh
slogan-slogan khas GMNI, untuk memudahkan propaganda. Jangka panjang, perlunya
disiapkan kader-kader marhaenis yang nantinya akan didudukkan sebagai politisi,
birokrat, seniman, militer, dan kepolisian untuk memudahkan manifestasi
marhaenisme dalam koridor kenegaraan. Pola itu harus diikuti dengan konsolidasi
internal yang massif dari seluruh kader nasionalis, dan GMNI menjadi
pelopornya. Dengan begitu maka kekuasaan negara dapat lebih mudah direbut dari
tangan kapitalis

non kooperatif,
mengontrol jalannya kebijakan kekuasaan secara langsung dengan cara “perlawanan
struktural” yaitu melalui aksi penolakan kebijakan, baik secara halus, frontal
dan radikal. Syarat perjuangan ini adalah massa harus kuat dan solid. Penguatan
massa harus dimulai dari desa-desa sebagai basis massa yang strategis karena
mayoritas terdiri dari kaum marhaen tertindas. Pola teknis melalui advokasi
yang bersifat holistik dan integratif. Sejarah perlawanan Mao Tse Tung melawan
Kuomintang dapat menjadi salah satu referensi untuk dikritisi.

3. Swadesi dan
Berdikari

Jika
mau mengaca pada sejarah, neo kapitalisme dan imperalisme saat ini, harus
diakui, kapitalisme telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kapitalisme
kontemporer sudah bukan lagi berupa penjajahan fisik, tetapi telah berubah
menjadi penggelontoran barang, modal dan tenaga kerja asing ke dalam negeri.
Ditambah dengan perpaduan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa
kapitalis, telah membuat semakin kaburnya batas-batas penindasan kapitalis
terhadap bangsa Indonesia. Hanya yang dapat dirasakan saat ini bahwa bangsa
Indonesia telah menjadi bangsa kuli di tanah airnya sendiri, atau lebih parah
lagi bangsa Indonesia telah menjadi gelandangan di tanah airnya sendiri. Bagaimana
tidak, hutang sebesar US$ 150 milyar, ditambah dengan rendahnya mutu/tingkat
pendidikan rakyat, rendahnya tingkat inovasi dan produktifitas kerja, mindernya
bangsa karena budaya westernis yang selalu mengagung-agungkan bangsa dan budaya
asing, tidak adanya produksi barang, ditambah lagi dengan dikuasainya seluruh
sumber daya alam dan aset-aset negara oleh bangsa asing, telah membuat bangsa
kita benar-benar tertindas.

Cara
perlawanan yang (sementara) paling tepat adalah swadesi dan berdikari. Swadesi
disosialisasikan dalam satu kesatuan massa aksi dan machtvorming, yaitu dengan
cara mempropaganda rakyat. Pola propaganda adalah dengan mendeskripsikan akan
kondisi bangsa yang tertindas akibat bangsa kapitalis asing, secara lugas dan
gamblang agar mudah dipahami oleh rakyat (khususnya kelas marhaen). Dengan
demikian, diharapkan akan muncul sensitifitas emosi dan rasa nasionalisme
(sense of belonging) terhadap bangsa. Propaganda tersebut diarahkan pada bentuk
perlawanan budaya dengan cara anti terhadap barang-barang kapitalis asing. Pola
perlawanan Gandhi di India melawan kapitalis Inggris dapat dijadikan salah satu
referensi strategi perjuangan GMNI. Lalu bagaimanakah dengan kapitalisme bangsa
sendiri ? Cara perlawanan yang tepat untuk menghadapinya adalah tetap dengan
cara non kooperatif sebagaimana yang telah dikemukakan di atas.

REVOLUSI SOSIALIS

1. Revolusi Rusia
(1917)

Revolusi Rusia berlangsung pada tahun 1917 melalui
penggulingan tidak berdarah rejim Tsar oleh Alexander Kerensky. Namun karena
Kerensky tidak memiliki pengalaman menjalankan pemerintahan, maka ia dengan
mudah disingkirkan oleh kaum Bolsevik pimpinan Lenin. Keberhasilan kaum Bolsevik mengambil alih
kekuasaan dilakukan melalui tiga cara : pertama, propaganda landreform,
propaganda ini segera dapat menarik simpati rakyat Rusia karena memang rakyat
rusia mayoritas masih berprofesi petani dan terbelakang. Cara kedua adalah
infiltrasi (penyusupan) partai politik, serikat buruh, dewan tentara dan
pemerintah daerah. Cara ketiga, adalah cara kekerasan. Cara yang terakhir ini
telah memunculkan pemberontakan dan perang saudara di Rusia sampai tahun 1921.

Tokoh-tokoh yang pernah memimpin Uni Sovyet sampai menjelang
keruntuhannya antara lain : Vladimir Ilyitz Ulyanov/Lenin (1917-1924), Joseph
Stalin (1924-1953), Malenkov (1953-1957), Nikita Kruschev (1957-1964), Lenoid
Breznev (1964-1982), dan terakhir Andropov dan Mikhail Gorbachev.

Sosialisme Uni Sovyet diawali dengan kolektivisme pertanian
(pembagian tanah secara merata) dan industrialisasi pada tahun 1928. Dari dua
program ini ternyata industrialisasi mendapat prioritas utama, akibatnya sektor
pertanian terabaikan. Karena industrialisasi hanya diprioritaskan pada
pengembangan teknologi ruang angkasa dan militer, akibatnya kebutuhan sekunder
masyarakat, seperti kulkas, televisi, rice cooker, otomotif, dll juga tidak
terpenuhi.

Program lainnya seperti sektor pelayanan jasa dan perumahan
juga tidak mendapatkan perhatian. Akibatnya, bengkel, restauran, toko,
transportasi, akomodasi, nyaris langka di Uni-Sovyet. Di bidang perumahan,
Sovyet juga mengabaikannya. Hal ini dibuktikan dengan minimnya perumahan rakyat
yang dibangun. Akibatnya, banyak keluarga yang harus berbagi rumah dengan
keluarga lainnya, bahkan satu rumah ada yang harus ditempati oleh 3 sampai 4
kepala keluarga.

Satu-satunya program yang paling mengesankan dan dianggap
berhasil adalah di sektor pendidikan. Kebijakan Sovyet yang memberikan anggaran
dana besar di bidang pendidikan dan bea siswa seluas-luasnya bagi rakyat
Sovyet, telah memajukan Sovyet dari keterbelakangannya. Bahkan Sovyet mampu
bersaing dengan teknologi Amerika Serikat yang mengakibatkan détente dalam
perang dingin.

Untuk merangsang etos kerja, Sovyet memberlakukan
differensia pendapatan. Taktik ini memang berhasil, namun secara tidak langsung
telah berakibat munculnya kelas-kelas baru di Sovyet. Masyarakat yang memiliki
status istimewa seperti teknokrat, artis, ilmuwan, akademisi, dll., relatif
hidup lebih makmur dibandingkan masyarakat lainnya karena mendapat fasilitas
lebih dari pemerintah.. Secara tidak langsung, konsep differensia ini telah
membiaskan konsep kesamaan kelas sosialis.

2. Revolusi China
(1911)

Revolusi China dimulai pada tahun 1911 setelah Kuomintang
(partai nasionalis) pimpinan dr. Sun Yat Sen berhasil menggulingkan dinasti
Manchu. Namun revolusi itu kemudian dikhianati Jenderal Yuan yang berkolaborasi
dengan panglima perang di wilayah-wilayah dan mengangkat dirinya sebagai kaisar
yang baru. Namun untungnya Yuan segera meninggal sebelum rencana-rencananya
dilaksanakan. Yuan kemudian mewariskan perang saudara antara panglima perang
yang berebut wilayah kekuasaan.

Disamping perang saudara, Jenderal Yuan juga mewariskan dua
partai politik, yaitu partai nasionalis “Kuomintang” pimpinan Chiang Kai Sek
dan partai komunis pimpinan Mao Tse Tung yang berdiri tahun 1921. Mulanya kedua
partai tersebut dapat bekerja sama, namun akibat pandangan yang berbeda dalam
mewujudkan China masa depan, akhirnya kedua partai ini terlibat perang saudara.

Kuomintang awalnya bisa memukul mundur Mao Tse Tung. Namun
Mao bisa memukul balik dan pada tahun 1949 berhasil mengambil alih kekuasaan.
Keberhasilan Mao itu berkat perjalanan gerilyanya yang telah berhasil
mengkonsolidasi seluruh kekuatan rakyat di desa-desa, sehingga Mao mendapatkan
dukungan yang sangat besar. Taktik Mao ini kemudian dikenal dengan taktik “desa
kepung kota”.

Program pertama sosialisme China adalah pemulihan
perekonomian China yang hancur akibat perang (1949-1952). Selama pemulihan, Mao
masih belum menerapkan sistem sosialis dalam pemerintahannya. Baru setelah
perekonomian China mulai membaik, program sosialis mulai diterapkan. Pola yang
dipakai adalah kolektivisasi pertanian dan industrialisasi (1953-1957), sama
seperti yang dilakukan Sovyet. Hasilnya hampir sama persis dengan Sovyet,
karena China lebih mengutamakan kemajuan industrialisasi, sektor pertanian
terabaikan yang berakibat macetnya produksi pertanian. Sisi positifnya, China
berhasil membuat kemajuan di bidang IPTEK secara mengesankan.

Tahun 1957, Mao membuat program baru yang dikenal dengan
program “Lompatan Jauh ke Depan”. Program ini antara lain, menghentikan
ketergantungan dari negara asing dengan optimalisasi sumber daya dalam negeri
dan kolektivisme pekerjaan (komune). Namun program ini ternyata gagal, sehingga
tahun 1961 Mao membuat penyesuaian kembali, dengan cara mengijinkan kembali
pemilikan tanah secara perorangan, penghapusan sistem komune, pemberlakukan
differensia pendapatan, mengutamakan inovasi teknologi daripada mobilisasi
kerja massa.

FILSAFAT SOSIALISME

1. Filsafat
Idealisme

Filsafat idealisme adalah metode berpikir yang memandang
hal-hal yang bersifat abstrak dan irrasional yang dipercayai menentukan
kehidupan manusia. Idealisme terbagi menjadi dua bagian yaitu :

a. Idealisme
Obyektif

Suatu metode berpikir yang berpangkal tolak dari ide yang
secara obyektif ada di luar manusia, misalnya ide Tuhan menurut filsafat agama
dan ide absolut menurut filsafat Hegel. Dengan metode ini kita dapat memandang
bahwa kehidupan dan alam semesta diciptakan oleh Tuhan. Percaya kepada kodrat
dan takdir adalah ciri dari filsafat ini yang dapat dilihat dalam keseharian
kehidupan manusia.

b. Idealisme
Subyektif

Suatu metode berpikir yang berpendapat bahwa ide subyektif
manusia menentukan keadaan dunia sekeliling. Tokohnya adalah Bhisop G.
Berkeley, seorang filusuf Inggris. Dalam kehidupan keseharian dapat kita jumpai
misalnya : “keadaan dunia ini tergantung dari suasana hatimu, bila hatimu
bahagia, dunia ini menjadi cerah, tapi bila hati muram, maka dunia menjadi
gelap gulita.

2. Filsafat
Materialisme

Filsafat materialisme pada intinya suatu metode berpikir
yang memandang manusia dari sudut materi (nyata dan ada). Dari sisi
materialisme, yang menentukan kehidupan manusia adalah alam sekitar, bukan roh,
Tuhan dan hal-hal irrasional lainnya sebagaimana yang dianut filsafat
idealisme. Filsafat materialisme terbagi menjadi dua aliran, yaitu :

a. Materialisme Dialektis

Suatu metode berpikir yang memandang dunia semesta ini
secara keseluruhan, tidak sepotong-sepotong atau berat sebelah, tidak beku atau
statis, melainkan suatu proses perkembangan yang terus menerus tiada akhirnya.

b. Materialisme
Metafisik

Suatu metode berpikir yang memandang dunia secara
sepotong-sepotong atau dikota-kotak, tidak menyeluruh dan statis.
Pikiran-pikiran berazaskan golongan ini misalnya : “sekali maling tetap
maling”, memandang orang berdasarkan sifat yang tidak bisa berubah.

3. Filsafat
Dualisme

Filsafat dualisme adalah metode berpikir yang mengawinkan
dua aliran yaitu idealisme dan materialisme. Tokohnya yang terkenal adalah
Immanuel Kant. Filsafat inilah yang nanti akan menjadi filsafat marhaenisme.

4. Filsafat Marhaenisme

Filsafat marhaenisme pada dasarnya menganut aliran DUALISME.
Filsafat materialisme dipakai untuk menganalisa persoalan dengan melalui
pendekatan materi (yang nyata dan bisa dirasakan inderawi). Historis
materialisme (materialisme dialektika) dengan menggunakan
tesis-antitesis-sintesis, adalah salah satu alat yang juga dipakai dalam
marhaenisme. Historis materialismeadalah pola penganalisaan sistem (stelsel)
kehidupan sosial masyarakat (ekonomi, adat istiadat, budaya maupun hukum formal)
secara holistik. Jika stelsel tersebut dianggap menindas maka harus diubah
dengan stelsel baru yang tidak menindas sebagai antitesis. Stelsel baru itu
merupakan antitesis dari tesis sistem sebelumnya.

Filsafat idealisme adalah pola pendekatan kedua yang dipakai
dalam menganalisa persoalan-persoalan yang bersangkut paut dengan perasaan
(emosi) subyektif manusia yang abstrak dan cenderung absurd. Perasaan-perasaan
tersebut misalnya adalah tentang kebenaran, kebajikan, kasihan, keibaan,
kebaikan, kemuliaan, keadilan, pahala dan lain-lain. Bisa juga tentang
ketamakan, kerakusan, keangkara-murkaan, kemunafikan, kecemburuan, kebencian,
dosa dan lain-lain.

Dengan filsafat ini, pada prinsipnya kita diijinkan
menganalisa persoalan dari sisi irrasionalitas manusia. Dengan metode ini
misalnya, kita akan mendapat jawaban kenapa kekuasaan cenderung menindas. Dari
sisi irrasionalitas, kekuasaan merupakan salah satu bentuk manifestasi sifat
alami manusia yaitu keserakahan, ketamakan, kerakusan, kecemburuan, iri, dengki
dan lain-lain. Jika demikian maka salah satu pemecahannya, secara
irrasionalitas pula, kekuasaan tersebut harus dibentengi oleh nilai-nilai
kebenaran, kemanusiaan, keadilan, belas kasihan, kemuliaan, kebajikan, dan
lain-lain, sehingga sifat-sifat buruk manusia tersebut dapat dieleminir
seminimal mungkin. Dan benteng tersebut pada dasarnya dapat diperoleh melalui
kekuatan ajaran agama. Inilah kemudian, kenapa Ketuhanan Yang Maha Esa duduk
mendampingi sosio-demokrasi dan sosio-nasionalisme.

FILSAFAT HEGEL, FEURBACH SAMPAI MARX

1. George Wilhelm
Friedrich Hegel (1770-1831)

Pemikiran Hegel bersifat idealisme obyektif. Hegel memandang
bahwa kesadaran manusia adalah kesadaran dari Allah. Pola perilaku yang
bersifat kebaikan dan kemuliaan yang tertuang dalam ajaran-ajaran agama, adalah
kesadaran yang diberikan Allah kepada umat manusia. Jadi, yang menentukan
kehidupan manusia itu adalah roh semesta (Tuhan).

2. Ludwig Feurbach
(1804-1872)

Pemikiran Feurbach bersifat materialisme dialektis. Feurbach
membantah pemikiran Hegel. Bagi Feurbach, Hegel dianggap telah memutar-balikkan
persoalan. Yang tidak nyata dianggap menentukan, dan yang nyata dianggap faktor
ikut. Manusia diibaratkan wayang, dimana dalangnya adalah Tuhan. Menurut
Feurbach, bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tapi Tuhanlah yang diciptakan
manusia. Jadi agama bagi Feurbach tidak lebih dari proyeksi hakekat manusia.
Hanya saja, saat ini manusia telah lupa, jika agama itu sebenarnya adalah
rekayasanya sendiri. Sehingga manusia kemudian meyakini, menyembah dan
mengharapkan berkah dari Tuhan itu, tanpa melaksanakan hakekatnya. Untuk
itulah, jika manusia ingin mengakhiri keterasingannya, maka manusia harus
meniadakan agama. Tidak perlu menyembah Tuhan. Sebaliknya, manusia harus menjadi
Tuhan bagi dirinya sendiri untuk menjalankan hakekat yang dituangkannya dalam
agama.

3. Heinrich Karl
Marx (1818-1883)

Pemikiran Marx juga bersifat materialisme dialektis. Marx
pada intinya tidak terlalu sepakat pada pemikiran Feurbach. Bagi Marx,
pemikiran Feurbach sama sekali tidak menyentuh pokok persoalan jika hanya
mengkritik agama. Kritik agama hanya akan merusak hakekat-hakekat manusia yang
telah tertuang dalam agama tersebut. Marx lebih tertarik untuk menganalisis
kenapa manusia tidak menjalankan hakekatnya sebagai makhluk sosial ? Kenapa
justru manusia mengasingkan diri dengan asyik memasrahkan diri pada Tuhan ?
Jadi Marx telah merubah pemikiran Feurbach, yang pada awalnya hanya kritik
agama diubah menjadi kritik masyarakat.

KAPITALISME

1. Ciri Kapitalisme

Secara historis, pada dasarnya perkembangan kapitalisme
merupakan bagian dari gerakan individualisme manusia. Kapitalisme awalnya
berkembang di Inggris yang kemudian pada abad 18 mulai menyebar luas ke kawasan
eropa barat-laut dan amerika utara. Ada beberapa dasar yang mencirikan
kapitalisme sejak awal perkembangan yaitu : pemilikan perorangan (individual
ownership), perekonomian pasar (market economy), persaingan (competition), dan
keuntungan (profit).

a. Pemilikan Perorangan

Alat-alat produksi seperti tanah, pabrik, mesin, sumber daya
alam boleh dikuasai oleh perorangan. Negara hanya diperkenankan mengelola
sektor jasa saja (kantor pos, pendidikan, dll).

b. Perekonomian
Pasar

Ciri perekonomian pasar yang paling mendasar adalah
mekanisme penawaran dan permintaan barang diserahkan pada kebutuhan naik
turunnya pasar (produsen dan konsumen). Untuk penentuan harga, diserahkan
sepenuhnya kepada produsen dan konsumen,
dan negara sama sekali tidak diperbolehkan ikut campur dalam penentuan
harga tersebut.

c. Persaingan

Persaingan adalah ciri pokok kapitalisme. Persaingan ini
adalah implikasi obyektif dari kebebasan berproduksi produsen dan kebebasan
memilih konsumen. Dalam persaingan, monopoli tidak dilarang, sehingga berlaku
hukum rimba, siapa yang bermodal kuat, ia yang menang. Dalam dunia industri,
persaingan yang paling ketat adalah dibidang riset. Sebab dengan riset tiap
perusahaan akan mampu membuat produk barang yang jauh lebih baik, lebih maju
dan lebih unggul kualitas dan mutunya.

d. Keuntungan

Keuntungan menjadi ciri pokok kapitalisme karena adanya tiga
kebebasan dalam sistem kapitalis yaitu, kebebasan berdagang dan menentukan
pekerjaan, kebebasan hak pemilikan, dan kebebasan mengadakan kontrak.

2. Adam Smith
(1723-1790)

Smith dikenal sebagai bapak kapitalisme karena bukunya “The
Wealth of Nations (1776) menjadi awal munculnya politik ekonomi modern yang
kemudian menjadi ideologi kapitalisme. Pemikiran Smith diawali tentang ide
pasar bebas yang bergerak menurut mekanisme pasar yang dianggapnya secara
otomatis bisa memproduksi macam dan jumlah barang yang paling disenangi dan
diperlukan masyarakat konsumen. Misalnya, permintaan konsumen tinggi namun ketersediaan
barang sedikit, secara otomatis akan meningkatkan harga barang tersebut.

Smith menolak campur tangan pemerintah di bidang bisnis dan
pasar. Sebab campur tangan tersebut menurut Smith, hampir senantiasa
mengakibatkan kemerositan efisiensi ekonomi yang ujung-ujungnya akan menaikkan
harga barang.

3. Kolonialisme dan
Neo Kolonialisme

Kolonialisme adalah pendudukan dan penjajahan atas sebuah
bangsa. Dalam perkembangan sejarahnya, kolonialisme lebih banyak dimotivasi oleh dua faktor, yang
pertama adalah karena ketamakan sebuah bangsa, dan kedua adalah implikasi dari
perkembangan industrialisasi.

Faktor ketamakan sebuah bangsa lebih banyak didasarkan pada
rasa ketidak-puasan sebuah bangsa terhadap sumber daya alam yang dimilikinya.
Untuk itu maka ia mencari koloni-koloni baru agar bisa diambil sumber daya
alamnya. Faktor ketamakan itu jugalah yang telah membuat eropa selama abad
pertengahan tidak pernah sepi dari perang antar bangsa. Bahkan slogan gold,
glory n’ gospel telah menjadi pandangan hidup dan motivasi bangsa-bangsa eropa
untuk menaklukan bangsa lainnya. Penjajahan Belanda di Indonesia adalah contoh
konkrit sebuah bentuk ketamakan bangsa yang harus dibayar mahal dengan
kemelaratan, kemunduran budaya dan kebodohan bangsa Indonesia.

Kolonialisme terjadi juga akibat dari proses industrialisasi
di eropa. Karena pesatnya pertumbuhan industri, telah membuat eropa kekurangan
bahan baku. Untuk itu negara-negara industri di eropa terpaksa mencari
alternatif sumber daya alam yang berada di tempat-tempat lain. Di abad 19,
kolonialisme biasanya lebih banyak dilakukan dengan penaklukan bersenjata
dibandingkan dengan cara berdagang.

Di jaman modern ini, kolonialisme dilakukan dengan cara
memberikan pinjaman utang melalui dana moneter internasional, bank dunia maupun
lembaga-lembaga donatur lainnya. Cara itu mengakibatkan negara kreditur menjadi
tergantung pada negara debitur karena lilitan hutang. Akibatnya, negara
kreditur kehilangan kedaulatannya, baik politik maupun ekonomi. Semuanya
tergantung kebijakan negara donatur, seperti yang dialami Indonesia saat ini.
Oleh karena itu tidak menjadi heran, apabila negara-negara dunia ketiga tidak
mampu menolak dan hanya mengikuti arus ketika negara-negara maju membuat
konsensus pasar bebas dunia melalui AFTA 2003 dan APEC 2020, walaupun
negara-negara dunia ketiga itu tahu negaranya hanya akan jadi obyek eksploitasi
ekonomi belaka.

4. Imperialisme dan
Neo Imperialisme

Imperialisme merupakan implikasi dari proses pertumbuhan
industrialisasi kapitalisme. Industrialisasi yang berkembang pesat dan semakin
maju telah membawa dua pengaruh dalam perekonomian masyarakat, yaitu akumulasi
(penumpukan) modal dan barang. Akumulasi modal yang tidak terinvestasikan akan
membawa pengaruh pada resesi ekonomi akibat
stagnannya bidang usaha. Akumulasi barang juga akan membawa pengaruh pada
turunnya nilai barang karena produksi tidak diimbangi penambahan jumlah
kuantitas konsumen. Untuk menyiasati akumulasi tersebut, kapitalis segera
mencari wilayah baru guna menyalurkan penumpukan modal dan barang tersebut.
Pada jaman imperialisme klasik, cara yang digunakan adalah dengan mendirikan
usaha-usaha baru yang dikelola sendiri. Namun di era imperalisme modern saat
ini (neo imperialisme), negara-negara maju cukup menanamkan modalnya saja
dengan membeli saham-saham negara lain.

5. Metamorfosa
Kapitalisme

Dalam perkembangan sejarah, ternyata kapitalisme telah
banyak mengalami perubahan. Perubahan-perubahan itu bertujuan memperbaiki
kelemahan-kelemahan sistem kapitalisme yang ada selama ini. Konsep perubahan
itu kemudian dikenal dengan konsep welfare state (negara kemakmuran) yang
dipelopori oleh Amerika Serikat. Konsep ini pada dasarnya relatif sangat
sederhana. Pertama, setiap anggota masyarakat berhak atas suatu standar hidup
minimal tertentu; kedua, negara bertanggung-jawab dalam menyediakan lapangan
kerja secara penuh sebagai suatu tujuan sosial yang paling penting dan harus
didukung dengan kebijaksanaan resmi.

Para penganut negara kemakmuran, percaya bahwa penyediaan
lapangan kerja secara penuh dapat dicapai tanpa mesti menerapkan nasionalisasi
secara besar-besaran. Perpajakan secara seksama disesuaikan dengan periode
kemakmuran dan depresi; suku bunga ditetapkan dengan keputusan pemerintah
menurut kebutuhan ekonomi; kebijakan fiskal dirancang untuk mendistribusikan
kembali daya beli sesuai dengan kepentingan utama negara yang bersangkutan;
memberikan rangsangan bagi investasi pada saat mengadakan kontrak bisnis;
program pekerjaan umum untuk mengatasi pengangguran secara langsung; pemberian
kredit oleh pemerintah kepada mereka yang mau mendirikan atau menyewa rumah.
Semua ini merupakan beberapa contoh ketentuan yang ditempuh oleh pemerintah
untuk menstabilkan perekonomian tanpa merubah dasar-dasarnya.

Lebih mudahnya, Amerika Serikat dapat menjadi contoh
perubahan-perubahan yang telah dilakukan kapitalisme tersebut. Perubahan itu
dimulai sejak tahun 1933 ketika Franklin D. Roosevelt berkuasa. Beberapa
perubahan itu antara lain :

a. Pembuatan
kebijakan yang bertujuan untuk menolong para petani dengan cara menaikkan harga
produk pertanian sampai pada tingkat yang membuat mereka mampu membeli produk
produksi.

b. Pembuatan UU
Hubungan Perburuhan Nasional. Dengan peraturan ini hubungan antara buruh dengan
majikan ditetapkan sebagai hubungan yang resmi. Dengan demikian secara tidak
langsung peraturan ini telah memberikan kesempatan buruh untuk memperoleh
bagaining yang kuat dengan majikan dalam menentukan harga upah.

c. Penetapan UU
Jaminan Sosial untuk memberikan perlindungan kepada warga negara khususnya yang
lanjut usia, cacat dan pengangguran yang nantinya akan ditanggung oleh negara.

d. Asuransi
kesehatan bagi warga negara yang berusia 65 tahun ke atas dengan memberikan
subsidi perawatan dan biaya sakit lainnya.

e. Pemberian
besiswa secara penuh kepada keluarga-keluarga tidak mampu sampai masa
pendidikannya berakhir.

f.
Pemberian santunan kesejahteraan sosial meliputi
pensiunan buruh, orang yang menjadi tanggungannya, dan orang yang selamat dari
bahaya atau bencana tertentu, veteran perang dan orang yang menjadi
tanggungannya, para penerima bantuan negara, seperti bantuan yang diberikan
pekada keluarga dengan anak-anak yang masih bergantung kepada orang tua, serta
para pegawai federal dan orang yang dihidupinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: